SUMARTONO'S WEBLOG

SUMARTONO\

Setetes embun dahaga dari Timnas Junior U-14

>> Selasa, Juni 30, 2009


Di saat saya malu menyaksikan Final Copa Dji Sam Soe antara tuan rumah Sriwijaya FC vs Persipura karena wasit yang tidak becus memimpin dan juga aksi kekanak-kanakan mogok main dilakukan oleh Persipura yang merasa dicurangi.

Suka atau tidak suka, inilah wajah persebakbolaan kita saat ini yang masih selalu saja terperangkap pada persoalan mendasar sepakbola Indonesia. Yaitu pada masalah yang hanya memikirkan kalah, menang atau wasit yang curang.

Lalu sampai kapan ini berakhir? Kedewasaan bijaksana yang tidak saja harus dilakukan oleh PSSI sebagai penguasa terbesar sepakbola Indonesia. Namun juga oleh pemilik klub, pemain ataupun sporter.

Untunglah disaat kekecewaan belum hilang benar, tersiar kabar menyejukan yang justru datang dari Timnas Uunior U-14. Tepatnya dari event ASEAN Youth Football Cup yang berlangsung di Bangkok, Thailand dari tanggal 21 hingga 30 Juni 2009. Di mana timnas yunior kita tersebut jadi kampiun setelah di Partai Final mengalahkan tuan rumah Thailand 3-1.

Memang ini event kecil, ASEAN Youth Football Cup yang merupakan bagian dari rangkaian acara untuk meningkatkan promosi bersama bidang pariwisata di kawasan negara anggota ASEAN.

Tetapi setidak-tidaknya kalau kita masih berfikir optimis ternyata bangsa kita masih punya potensi dalam olah raga ini. Tinggal masalahnya pembinaan kelanjutannya bagaimana. Inilah yang harus jadi PR berat oleh insan persepakbolaan di seluruh Indonesia yang terlibat langsung atau tidak langsung di dalamnya. Yaitu harus bahu membahu saling bekerja sama. ***


Read More...

Sebuah Pelajaran Mental Bertanding

>> Senin, Juni 22, 2009


Piala Konfederasi kejuaraan sepakbola antar benua yang saat ini sedang berlangsung di Afrika Selatan (Afsel) memang belum selesai. Empat tim yaitu Spanyol, Afsel, Brasil dan AS telah berhasil melaju ke babak semifinal yang nanti akan berlangsung 24/6 Spanyol vs AS dan 25/6 Brasil vs Afsel.

Bukan kehebatan Spanyol dan Brasil yang selalu menang dalam babak penyisihan yang akan saya sorot dalam posting kali ini. Juga bukan kekalahan tragis Italia 0-3 dari Brasil yang membawanya pulang lebih awal. Melainkan kehebatan negeri Paman Sam AS yang sepertinya imposible bisa lolos ke babak semifinal. Lalu pelajaran apa yang bisa kita petik dari negerinya Obama tersebut?

Seperti yang telah kita saksikan bersama saat babak penyisihan dimana AS satu grup dengan Brasil, Italia dan Mesir. Di pertandingan pertama, AS dilumat Italia 1-3. Dan dipertandingan kedua kemudian ditelan Brasil 0-3. Jadi dalam dua pertandingan awal AS sudah kalah dua kali. Logikanya sebuah tim kalau sudah kalah 2 kali dalam satu grup yang dihuni empat peserta, pasti akan tersingkir. Tapi tidak dengan AS. Justeru dia malah yang lolos meninggalkan pesaingnya Italia dan Mesir.

Dimana klasemennya saat selesai babak penyisihan adalah sebagai berikut :

Brasil 3 3 0 0 (10-3) 9
AS 3 1 0 2 (4-6) 3
Italia 3 1 0 2 (3-5) 3
Mesir 3 1 0 2 (4-7) 3

Disitulah hebatnya timnas AS, sebuah mental bertanding yang tidak pernah mengenal kata menyerah. Telah kalah dua kali bukan berarti tamat. Makanya saat pertandingan terakhir melawan Mesir yang lebih dijagokan, begitu semangat dan penuh kerja keras. Dan akhirnya kemenangan 3-0 vs Mesir membawanya lolos ke babak semifinal. Walau nilainya sama 3 dengan Italia dan Mesir, namun lebih baik dalam produktivitas dan selisih gol.

Itulah mental yang harus ditiru oleh timnas kita. Tidak ada kata kalah sebelum peluit tanda selesai berbunyi. Semoga Timnas Indonesia bisa belajar dari mental pemain Timnas AS yang kokoh laksana baja. Sebab apapun dengan kerja keras, bukan mustahil yang impossible menjadi possible. ***







Read More...

Timnas U-23 tanpa Boaz kurang greget

>> Sabtu, Juni 13, 2009


Orang bijak bilang, “Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Maka itu segeralah bangkit demi menghadapi kemenangan nanti.”

Kabar yang saya tunggu itu akhirnya datang juga. Namun sayang bukan berita baik, melainkan mengenai kekalahan Timnas U-23 oleh Timnas U-23 negeri jiran 1-0 dalam partai uji coba Sabtu 13 Juni tadi.

Ternyata tanpa pemain inti Boaz Solossa dan Imanuel Wanggai (Persipura) yang sedang dibutuhkan klubnya Persipura menghadapi Copa Indonesia. Dan juga tanpa Jajang Mulyana dan Egi Melgiasyah (Pelita Jaya) karena cedera. Permainan timnas kita sangat jauh dari gregetnya sehingga harus kalah dalam uji coba tersebut.

Walaupun hanya partai uji coba dan hanya kalah 1-0 di kandang lawan, namun tetap saja yang namanya kekalahan tetap saja menyakitkan. Apalagi kalah sama negeri jiran yang notabene akhir-akhir ini sedang tidak kondusif hubungan politiknya dengan negara kita.

Anak asuh Pelatih Cesar Payovich tersebut terpaksa menelan pil pahit setelah pemain lawan mencetak gol pada menit ke-42. Gol berawal dari kesalahan bek Rachmat Latief dalam menghalau laju bola. Semoga Rachmat Latief bisa belajar cepat dari kejadian pahit ini.

“Rachmat kurang jeli dalam membuang bola. Pemain lawan langsung menyambar bola rebound tersebut. Tapi, itu bukan masalah. Kami juga memiliki sejumlah peluang, meski gagal berbuah gol,” kata Asisten Manajer Timnas U-23, Candra Solechan kepada Artha Tidar, wartawan GOSport, Sabtu, 13 Juni 2009.

Kini kekalahan tersebut seperti nasi yang sudah jadi bubur. Dalam uji coba selanjutnya saat melawan Timnas U-23 Singapura (20/6) semoga kita bisa belajar dari kekalahan tersebut. Walaupun belum tanpa Boaz Solossa, Immuel Wanggai, Jajang Mulyana dan Egi Emelgiansyah, kita doakan bersama semoga timnas U-23 kita bisa memenangi saat menghadapinya nanti. ***
Read More...

Merajut asa dari Timnas U-23 Indonesia

>> Jumat, Juni 05, 2009


Bisa dimaklumi saat uji coba akhir Mei lalu di Iran, Timnas U-23 Indonesia kalah 5-0 dari Timnas senior Iran dan juga kalah 1-2 dari Timnas U-23 Iran. Dalam persiapan yang sangat mendadak disela-sela sibuknya di kompetisi local, kekalahan tersebut masih bisa dimaklumi. Sebab para pemain masih sangat kelelahan usai menjalani kompetisi ISL yang panjang. Apalagi tim muda kita kalah dari Iran yang notabene merupakan salah satu kekuatan sepakbola di Asia.

Jadi kekalahan tersebut bisa dijadikan bahan pelajaran yang sangat berharga dalam rangka persiapan menghadapi Sea Games akhir tahun 2009 nanti di Laos.

Seperti yang sudah dilansir oleh beberapa media. Setelah menyelesaikan dua pertandingan di Iran, tim asuhan pelatih Cesar Payovich ini langsung kembali ke tanah air. Rencananya mereka akan menjalani pelatnas di Palembang. Jika tidak ada halangan, dua uji coba internasional telah menunggu, yakni menghadapi Malaysia U-23 pada tanggal 13/6 dan Singapura U-23 pada tanggal 20/6.

Sebenarnya masih sangat disayangkan, walau striker Timnas U-23 kita ada Jajang Mulyana pemain Pelita Jaya yang baru nimba ilmu di Brasil tapi belum bisa diperkuat Boaz Solossa karena masih memperkuat klubnya Persipura di ajang Copa Indonesia.
Disamping itu Boaz juga merupakan pemain Timnas Senior. Tentunya pelatih Timnas U-23 yaitu Cesar Payovich harus minta ijin dulu ke Benny Dollo sebagai pelatih Timnas Senior jika ingin meminta tenaga Boaz tersebut.

Intinya harus ada komunikasi antara Cesar dengan Bendol. Toh semuanya demi kepentingan timnas Indonesia kok. Timnas U-23 dan Timnas Senior juga sama-sama berjuang membawa nama bangsa.

Rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu, bagaimana yah hasil racikan Cesar Payovich pelatih dari Uruguay saat Timnas U-23 Indonesia melawan Timnas U-23 Malaysia dan Singapura? Kita lihat saja nanti hasilnya di blog ini. ***


Read More...

Dua Gol dari Boaz Membawa Persipura Juara ISL 2008/2009

>> Minggu, Mei 17, 2009


Menyaksikan pertandingan Persija Jakarta lawan Persipura Jayapura dengan hasil akhir 1-3 yang dimenangkan oleh Persipura, tuntaslah sudah tanda tanya selama ini. Betapa tidak, sejak ISL sebagai kompetisi profesional pertama di Indonesia digulirkan selama ini saya selalu dengan setia menunggu siapa yang akan juara. Persipura yang notabene masih menyisakan 3 pertandingan lagi setelah melawan Persija, kini didaulat sebagai juara. Karena sudah tidak mungkin nilainya terkejar oleh rival-rivalnya di kompetisi kali ini.


Kini setelah juara dengan sumbangsih 2 gol dari striker Timnas Indonesia Boaz Solossa lengkaplah sudah kebahagian Persipura. Bukan hanya menjadi juara, tapi 2 pemainnya yaitu Alberto Goncalves dan Boaz Solossa untuk sementara bersama telah menjadi Top Skorer sementara dengan masing-masing menyumbang 22 gol. Tiada kata yang pantas diucapkan selain Selamat Persipura dan Selamat Alberto dan Boaz. Gol kalian sangat bermakna bagi Persipura.

Tentang perolehan siapa yang nanti menjadi Top Skorer di akhir kompetisi ISL, saya pernah membahasnya di posting terdahulu. Namun sebagai warga negara Indonesia, saya sangat berharap tentunya setelah ISL berakhir agar Boaz yang menjadi Top Skorer. Karena apa, sejak 2004 setelah Ilham jadi Top Skorer, belum pernah ada lagi bomber lokal yang mengikuti jejak Ilham yang sekarang malah tidak main di ISL.

Jadi setelah juara, bukan berarti Persipura santai-santai saja. Karena masih ada yang diperebutkan di sisa 3 pertandingan terakhir oleh Boaz khususnya agar menjadi Top Skorer. Semoga saja Boaz Solossa, disamping membawa Persipura juara ISL, jadilah Top Skorer di akhir kompetisi untuk menunjukan bahwa bomber lokal tidak kalah kualitasnya dibanding bomber asing.

Selamat Persipura! Bravo Boaz! ***
Read More...

Antara PSSI, FIFA dan juga AFC

>> Rabu, Mei 06, 2009


Mungkin rekan-rekan blogger mania bertanya, kok lama tidak update artikel? Yah begitulah, karena kesibukan "dunia nyata." Tapi demi rekan-rekan semua dan khususnya buat rekan saya yang sudah menanyakan postingnya seperti Mas Luzman calon pengamat sepakbola handal negara kita dan juga Mas Syd calon Polisi yang lebih mengayomi masyarakat negara kita tercinta ini.

Tentunya sudah banyak yang mendengar beritanya, bahwa pada tanggal 8 Mei 2009 nanti di Kuala Lumpur Malaysia, Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) akan mengadakan kongres untuk memilih wakil AFC sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) Federasi Sepakbola Internasional (FIFA). Wakil dari AFC ini akan direbutkan antara Mohammed bin Hammam yang notabene sekarang adalah Presiden AFC dan Sheikh Khalifa yang saat ini menjabat sebagai Presiden Asosiasi Sepakbola Bahrain.

Lho kok saya perduli sih, biarkan saja terserah diantara 2 orang Arab itu siapa yang terpilih. Paling, tidak ada pengaruhnya dengan persepakbolaan negara kita.

Justeru karena ada pengaruhnya dengan persebakbolaan Indonesia kelak, makanya saya tulis posting ini.

Kita tahu kan ketua Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) saat ini yang baru terpilih kembali yaitu Nurdin Halid. Karena berkat lobby Hammam kepada FIFA maka Nurdin Halid bisa terpilih. Dan juga berkat Hammam pula maka segala permasalahan PSSI dengan FIFA bisa diselesaikan. Bolehlah kalau sekarang ini saya ucapkan selamat kepada Nurdin atas jiwa petarungnya yang pantas kita tauladani, sehingga ditengah-tengah banyaknya desakan agar mundur ternyata Nurdin Halid telah berhasil memenangkan pertarungannya untuk terpilih kembali. Semoga bisa belajar dari masa lalu, sehingga sepakbola Indonesia bisa lebih baik lagi.

Nah disinilah persoalan yang akan saya ulas. Kita bisa maklum kalau PSSI dibawah komando Nurdin mendukung secara terbuka agar Hammam bisa terpilih sebagai wakil AFC di Exco FIFA. Sudah wajarlah, kalau merasa dibantu maka wajib membantunya. Hutang budi maka harus membalas budi. Namun yang jadi masalah pesaingnya Hammam yaitu Sheikh Khalifa juga sangat kuat dan mendapat dukungan penuh dari Jepang dan Korea.

Andai akhirnya yang terpilih Hammam pasti kita bisa bernafas lega. Tetapi kalau yang terpilih Khalifa yang notabene tahu Indonesia tidak mendukungnya dan habis-habisan mendukung Hammam? Apakah nantinya Indonesia akan dipersulit kedudukannya di FIFA? Bagaimana dengan mimpinya untuk mencalonkan diri sebagai calon Tuan Rumah Piala Dunia 2022?

Masih 50:50, jangan kuatir dulu. Kita nantikan saja siapa yang akan terpilih nanti Hammam atau Khalifa. ***
Read More...

  © Copyright GOLSPEKTAKULER template didesain oleh Ourblogtemplates.com April, 2009

Back to TOP